Sejak tiga tahun yang lalu pun saya sudah bergantung pada sebuah beauty center ternama yang mengandalkan bahan-bahan alamiahnya sebagai senjata khas produk-produknya, sebut saja Larissa.
Semenjak pindah (baca : kembali lagi) ke kota seberang bernama Surabaya yang khas dengan cuaca panasnya, saya merasa wajah dan kulit saya baik-baik saja, malah cenderung lebih bersih daripada sebelumnya. Ketika beraktivitas sehari-hari pun hanya memakai pelembab dan bedak tabur putih saja. Apalagi kuliah yang superpadat di kampus abu-abu membuat saya tak terlalu memusingkan urusan penampilan, apalagi saat itu mayoritas kawan-kawan saya adalah kaum adam. Setiap minggu masih bisa pulang ke kota asal yang hanya ditempuh dalam waktu 1-2 jam, masih bisa rutin facial dan merawat badan.
Setahun berselang, saya ditakdirkan untuk pindah lagi ke ibukota Indonesia yang cuacanya lebih sering mendung daripada Surabaya. Namun entah kenapa wajah saya malah semakin sering berjerawat dan susah hilangnya. Apalagi disini belum ada cabang Larissa. Semakin parahlah kondisi wajah saya.
Sewaktu saya pulang kampung ke kota asal, dokter Larissa saya menyarankan saya untuk tetap rutin facial setiap bulan, meskipun bukan di beauty center Larissa. Baik sekali lah beauty center ini, tidak memaksa pelanggannya untuk terikat dengan perawatan asli dari pihaknya, yang penting urusan wajah harus tetap terjaga.
Dan hari ini salah satu sahabat mengajak saya untuk facial di salah satu beauty center ternama. Sebelumnya saya sudah membaca di dunia maya tentang review pelanggan-pelanggannya, kata mereka bagus dan enak facialnya. Sahabat saya juga pernah mencobanya di cabang jogja dan dia puas dengan hasilnya. Dan saya memutuskan untuk ikut serta.
Sesampainya di sana, hanya kecewa yang saya rasa. Resepsionisnya tak ramah, tak ada katalog, tempatnya pun seperti seadanya. Resepsionisnya tidak memasarkan dan menjelaskan kepada kami apa saja fasilitas perawatan yang ditawarkan disana, dia langsung memutuskan untuk memberi kami facial yang biasa saja. Kami disuruh menunggu hampir satu jam lamanya, lalu satu persatu dari kami masuk ruangan facial tanpa disuruh konsultasi dengan dokter sebelumnya (berbeda dengan Larissa). Ketika masuk saya heran, tak ada pakaian ganti yang harus saya pakai, selimut pun hanya selembar kain tipis dan kasurnya bukan kasur khusus facial namun kasur biasa.
Kapsternya juga langsung membersihkan wajah saya dengan susu pembersih yang dioles sepertinya hanya sebagai sarat saja, bukan membersihkan dengan seksama. Lalu tiba-tiba sinar menempa wajah saya dan dia memencet komedo dan jerawat saya. Loh ? Bukannya wajah harus di peeling dan di massage dulu, kemudian di uap agar pori-porinya terbuka ? Aneh, yasudahlah ya. Di tengah proses "penyiksaan" itu, tiba-tiba dia minta ijin kepada saya untuk pergi ke ruang sebelah. Katanya mau mengangkat masker pasien lain. Loh beauty center ini kekurangan kapster ya ? Kok satu kapster untuk campur-campur, melayani beberapa pelanggan sekaligus, padahal kan harus steril tangannya. Sekitar sepuluh menit kemudian kembali lagi ke saya, meneruskan pembersihan komedo, lalu wajah saya dipijat dengan sebuah alat (yg saya tahu fungsi alat ini dari Larissa), yaitu mematikan calon jerawat. Kemudian wajah saya langsung di masker, tanpa ada penjelasan dari kapsternya ini masker apa dan manfaatnya apa. Maskernya pun hanya bagian muka saja dan kurang rapi pengolesannya. Tak ada pijat relaksasi di kepala, leher dan dada seperti di beauty center saya. Tiga pulih menit berlalu, kapsternya kembali lagi untuk mengangkat masker dan mengoleskan krim yang saya suka wanginya walaupun tidak diberi tahu itu krim jerawat atau krim pelembab. Tak ada es batu mentimun yang dioleskan untuk menutup pori-pori muka. Lalu proses facial selesai begitu saja, tanpa ada salam hangat dan ucapan terima kasih dari kapsternya, tidak seperti di Larissa.
Saya ke kasir dan membayar biaya facial dengan setengah hati, lalu pergi.
Branding memang penting, tetapi ketika brand itu sudah terkenal dan sudah besar, hendaknya tidak mengurangi kualitas pelayanan yang diberikan apalagi meremehkan pelanggan.
No comments:
Post a Comment