Wednesday, May 28, 2014

Dilema Wisata Mahasiswa, Edisi Bandung - Bagian 2

Dan One Day Trip to Bandung pun dimulai.

Pukul 23.30 telpon travel Cititrans, tapi mereka cuma sedia travel terpagi Bintaro-Bandung pukul 05.00 dan 07.00. Kalau ambil yang pukul 05.00 kepagian (takut nggak bisa bangun), kalau ambil yang pukul 07.00 kesiangan (estimasi sampai Bandung pukul 10.00). Cititrans coret. Terus ganti travel, telpon Cipaganti. Ada travel pukul 05.30. Cocok lah. Deal. Pesan. Lalu siap-siap baju dan isi tas hingga pukul 01.30, haha dasar wanita. Lalu pukul 04.45 saya dijemput oleh partner liburan saya ke Bintaro Trade Center (BTC). Curiga sih, setahu saya kantor travel Cipaganti ada di Sektor 5, sebelah Outlet Cimory, dekat toko Dapur Cokelat. Ternyata dia pesan travel XTrans bukan Cipaganti. Duh masnya khilaf. Travel XTrans Bintaro-Bandung harganya 85k, begitu pula sebaliknya. Lalu kami beli nasi liwet, empat iris kue sponge dan air mineral untuk mengganjal perut, habis 63k. Demi apa cuma seiris kue sponge biasa begitu harganya belasan ribu. Di carrefour dan hero kue sponge utuh berdiameter sekitar 25cm aja cuma 25k. Yaudalah ya...

Pukul 05.45 travel kami mulai melaju ke Bandung. Dan parahnya 30 detik kemudian, ketika travel belum sampai fly over, saya sudah terlelap. I am princess-able like a Sleeping Beauty, hahaha. Pukul 09.30 travel kami sampai di Hotel De Batara di daerah Cihampelas, hotel milik XTrans. Lalu sarapan dulu di Lawson, makan bekal yang beli di BTC, nasi liwet yang mahal-tetapi-rasanya-biasa-aja.

Pukul 09.00, kami naik taksi ke Trans Studio Bandung. Taksi BB sih, tapi supirnya nyambi jadi supir carteran mobil juga kayaknya, menawarkan kami seandainya ke Bandung lagi untuk berwisata bersama 8 orang bisa sewa mobil Avanza, dengan Bapaknya sebagai supir dan tour guide, biaya 800k untuk one-day-trip to ciater, gedung sate, dan blablabla keliling Bandung pokoknya.

Lalu beberapa menit kemudian sampailah kami di Trans Studio Bandung. Kirain TSB jauh dari Cihampelas, ternyata dekat, taksi cuma habis 32k. Dan berhubung masih pagi, TSB baru buka, jadi masih belum ramai, mungkin hanya ada ratusan orang saja. Dan melayanglah uang 500k untuk tiket masuk TSB untuk berdua.

Saya suka konsep bagaimana TSB ditata, benar-benar terencana. Parkir, ATM center dan penjualan tiket ada di lantai 1, lalu naik eskalator, dan sistem antrian pintu masuk berada di lantai 2, sehingga wisatawan tidak perlu mengantri panjang hingga di luar area, kepanasan, kehujanan dan segala macamnya. Oh iya, dilarang membawa makanan dan minuman, sekecil apapun ke dalam area TSB. Saya membawa roti dua iris dan dua botol air mineral, keduanya diberi pilihan, disita agar nanti bisa diambil lagi saat pulang, atau dibuang. Akhirnya kami buang saja.

Keputusan kami untuk masuk TSB sejak pagi tidak salah. TSB masih lengang. Bisa bebas berfoto ria tanpa khawatir ada orang disamping kita. Toiletnya juga masih sepi sekali serasa milik sendiri tanpa khawatir malu untuk membetulkan dandanan yang telah berantakan akibat perjalanan.

Di dalam TSB terbagi menjadi 3 area, yaitu Studio Central, Lost City dan Magic Corner. Di Studio Central ada Yamaha Coaster, yang tidak kami naiki dan kami menyesal saat siang hari ternyata sudah antri. Ada Trans Broadcast Museum, disini kami tahu bagaimana pekerjaan mereka yang berada dibalik layar. Saya selalu bermimpi dan ingin sekali menjadi presenter atau News Anchor di televisi, namun entah kenapa sesampainya di ruang layar hijau untuk syuting insert investigasi, saya malu tidak berani. Mungkin karena saya pergi bersama dia, haha. Lalu ada Trans Car Racing bagi anak-anak. Ada juga Vertigo dan Giant Swing semacam-wahana-di-dufan, yang ingin saya naiki tetapi partner liburan saya tidak bersemangat menemani, yasudahlah tidak jadi. Ada si Bolang Adventure, berkeliling dengan kereta mini tentang Indonesia seperti di TMII. Ada Trans City Theater yang bagus sekali, saya nonton pukul 13.00 tentang pertunjukan Drama Siluet. Keren. Romantis. Tentang seorang gadis yang mengejar Cinta dan Mimpi. Saya jadi berambisi lagi untuk berkeliling dunia seperti gadis dalam drama tersebut.

Pindah ke area The Lost City, ada Kong Climb (nggak tahu ini apa), ada Jelajah (semacam kereta luncur di air dan bikin baju basah jadi nggak kami coba), ada amphiteater (panggung yang disewakan untuk acara). Satu-satunya wahana yang kami coba di area ini adalah Sky Pirates, semacam kapal yang mengelilingi area TSB tapi dari atas. Bagus tapi sayangnya 1 putaran cuma sebentar.

Lalu area terakhir namanya Magic Corner. Ada wahana Black Heart Pirate Ship, Pulau Liliput dan Dragon Riders yang dikhususkan untuk anak kecil. Ada juga Dunia Lain, wahana wajib di setiap taman hiburan. Kami naik kereta mini, boneka hantu dan pernak-pernik hantunya nggak serem tapi bagus pembuatannya. Ada lukisan hantu bergerak juga macam di film Harry Potter. Lalu wahana terakhir ada Negeri Raksasa, semacam wahana halilintar di Dufan itu.

Last but not least, ada Science Center. Menurut saya ini wahana paling asyik dan menguras waktu untuk pengunjung 19 dan 24 tahun yang sama-sama hobi membaca macam kami berdua. Saya suka Tes Dominan Otak, hasil otak saya adalah Kanan-Kanan (Dominan Otak Kanan). Saya juga suka Percobaan Kumparan Tesla, kerenlah itu, mengingatkan saya pada praktikum saya di kampus abu-abu dulu.

Setelah puas keliling TSB, kami makan di Studio Mie di dalam TSB yang pembayarannya pakai Mega Card juga. Kami beli Mie Ayam Bakso dan Mie Ayam Jamur. Enak dan worth to eat kok, harganya 28k per porsi. Setelah puas mengelilingi TSB dan perut kenyang, kami keluar. Di pintu keluar setiap pengunjung diberi stiker TSB.

Lalu kami keliling Trans Studio Mall untuk menukarkan sisa saldo di Mega Card kami. Trans Studio Mall bagus, ada Payless, Furla, Salvatore Ferragano, Hermes dan outlet international-branded-bags-and-shoes lain yang sudah pasti membuat mupeng hati wanita seperti saya. Saya memang penggila tas dan sepatu, harap maklum. :D

Kemudian pukul 14.00 kami naik taksi kembali ke Cihampelas. Ongkos taksinya lebih mahal dari sebelumnya, 50k dan saya merasa jalannya lebih ribet daripada jalan saat berangkat tadi, dan sedikit macet. Kami menunggu waktu sambil jalan-jalan ke Cihampelas Walk. Dari awal memang saya mewajibkan diri untuk menyempatkan mampir ke sini karena sebelumnya sudah pernah kesini dan ketagihan. Saya lupa kalau di CiWalk ada outlet Elizabeth yang besar, begitu lihat, tanpa pikir panjang langsung masuk dan alhamdulillah menemukan tas yang cocok. Di lantai 1 CiWalk juga sedang ada diskon Elizabeth, tapi tas yang sedang di diskon waktu itu sayangnya tidak ada yg menarik selera saya.

Setelah itu kami makan di Outlet Bakso Malang Karawitan (karena partner liburan saya tidak suka makan makanan jepang, korea dan thailand). Dan pilihan dia selalu jatuh pada sup. Setiap ke mall manapun pasti makannya sup, ke Bintaro Exchange, Bintaro Plaza, bahkan jauh-jauh ke Gandaria City pun pilihannya tetap sama, sup.

Setelah keluar CiWalk, saya beli titipan kaos untuk adek dengan harga amat sangat murah. Kawasan Cihampelas memang pusat oleh-oleh untuk wisatawan. Menurut pengalaman saya selama travelling kemana-mana, oleh-oleh kaos Bandung adalah yang terbaik, harganya murah tapi kain kaosnya nggak kayak saringan tahu macam kaos oleh-oleh di tempat wisata lain.

Setelah puas berkeliling Bandung kami kembali ke Hotel De Batara, tempat pusat travel XTrans. Sebenarnya kami memesan travel pulang pukul 20.30, namun kami sudah lelah dan mendaftar waiting list untuk travel pukul 18.30. Alhamdulillah saat itu ada dua orang yang cancel travel pukul segitu, jadi kami bisa lebih cepat beristirahat dan kembali ke Bintaro. Sepanjang perjalanan kami berdua terlelap nyenyak, mungkin karena lelah yang mendera. Pukul 21.15 kami sudah sampai Bintaro dengan selamat dan bermuka bantal. Alhamdulillah, liburan kali ini terlaksana dan tidak jadi batal.

Terima kasih telah membaca naskah panjang bak sejarah ini.

-From Bandung With Love-

No comments:

Post a Comment