Masih ingatkah kalian dengan iklan Semen Holcim dengan backsound “Que Sera, Sera” beberapa tahun yang lalu ? Kalau tidak salah, begini lagunya, “Que sera, sera. Selama ada Holcim, jadi apapun juga, pasti sempurna. Untuk selamanya.”
Pasti kalian mengira kalau saya sedang promosi Semen Holcim. Bukan, bukan itu maksud saya. Saya hanya kagum dengan pihak Advertising iklan tersebut. Bisa menjadikan lagu tahun 1956 menjadi sebuah backsound iklan semen. Siang tadi, ketika secara tidak sengaja saya menonton sebuah stasiun swasta baru yang belum seberapa terkenal, saya dibuat takjub. Stasiun TV tersebut sedang memutar sebuah iklan pendidikan tentang Que Sera, Sera. Tentu saja kali ini dengan lagu Que sera, sera versi aslinya.
Iklan tersebut sepertinya bukan buatan Indonesia karena pemain-pemainnya berwajah Thailand. Iklan dengan berlatar suasana konser para murid SLB (Sekolah Luar Biasa), mungkin tingkat TK (Kindergarten), di depan para orang tua mereka. Sungguh mengharukan sekali melihat anak-anak penyandang cacat bisa menyanyikan lagu tersebut dengan bangga sehingga bisa membius hati siapapun yang melihatnya. Saya kagum akan betapa kuatnya diri mereka dalam menghadapi cobaan dalam hidup ini !
Sebagai manusia yang normal, seharusnya kita bisa berkaca dari kehidupan mereka. Introspeksi diri, begitu istilahnya. Selama ini, berjalan kaki sebentar saja, sekadar jalan santai 30 menit setiap bulan, kita sudah mengeluh capek. Bagaimana dengan anak-anak yang tidak mempunyai kaki? Mereka tidak bisa melakukan banyak hal seperti yang biasa kita lakukan. Tidakkah kalian bersyukur?
Setiap orang pasti pernah mengeluh, “Pelajarannya sulit sekali. Mengapa ada materi seperti ini? Menyontek saja ah, biar praktis.” Keluhan seperti itu umum diucapkan di kalangan pelajar, termasuk saya. Hehe :D. Apalagi untuk pelajaran fisika, kimia dan matematika. Wah, sulitnya tak tertanggungkan. Sekali lagi, bersyukurlah bahwa kalian masih bisa berpikir. Pernahkah kalian membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang mengidap “down syndrome” ? Untuk fokus ke suatu hal saja mereka sulit melakukannya, apalagi berpikir.
Masih banyak lagi hal yang harus kita syukuri. Bagi para remaja zaman sekarang, rasanya kalau nggak nonton BF itu bakalan dicap “nggak gaul”, “sok alim”, dsb. MasyaAllah. Gunakan mata untuk melihat hal-hal yang indah, dan halal bagi kita. Pernahkah kalian membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang buta, tidak bisa melihat apapun? Melihat yang indah saja tidak bisa, pasti rasanya sangat menyiksa, tak tertanggungkan.
Maka, sekali lagi, benar kata mama saya. Hendaklah kita sebagai manusia sering-sering melihat ke bawah, bukan ke atas. Maksudnya, melihat bahwa masih banyak orang yang kurang beruntung dari kita. Orang-orang yang lebih cantik, lebih pintar atau lebih kaya seringkali membuat kita iri dan memaksa bahwa diri kita pasti bisa menjadi seperti orang tersebut. Namun jadikanlah hal tersebut hanya sebagai motivasi hidup, bukan cambuk yang memaksa agar kita harus seperti dia.
Iklan dan lagu Que Sera, Sera telah menginspirasi saya, bahwa jalani hidup apa adanya. Apapun yang terjadi, terjadilah. Berikut adalah lirik lagunya versi original.
From THE MAN WHO KNEW TOO MUCH (1956) words by Ray Evans and music by Jay Livingston.
QUE SERA, SERA
When I was just a little girl
I asked my mother
What will I be?
Will i be pretty?
Will I be rich?
Here’s what she said to me :
Que sera, sera
Whatever will be, will be
The future’s not ours to see
Que sera, sera
What will be, will be
When I grew up and fell in love
I asked my sweetheart
What lies ahead?
Will we have rainbows
Day after day?
Here’s what my sweetheart said :
Que sera, sera
Whatever will be, will be
The future’s not ours to see
Que sera, sera
What will be, will be
Now I have children on my own
They asked their mother
What will I be?
Will i be handsome?
Will I be rich?
I tell them tenderly :
Que sera, sera
Whatever will be, will be
The future’s not ours to see
Que sera, sera
What will be, will be


No comments:
Post a Comment